Presensi dengan Fingerprint, Face Verification atau Facial Recognition, Mana yang Terbaik?

Mari kita selaraskan pikiran bahwa salah satu benda yang tidak akan pernah lupa dibawa oleh banyak manusia adalah Smartphone. Dengan pernyataan ini, maka cara presensi pekerja paling efisien adalah dengan menggunakan Mobile App. 

Baca Juga: Sistem Presensi Masa Depan Adalah Menggunakan Mobile App + Face Verification

presensi

Pertanyaan lain muncul, apakah clock in hanya dengan geolocation bisa dipercaya? Jawabannya adalah tidak. Merujuk ke artikel dengan link di atas, ada kemungkinan geolocation bisa “diakalin”. Oleh sebab itu, Face Verification adalah fitur yang harus ada selain geolocation. 

Mengapa harus face verification? Mengapa nggak Fingerprint? Kartu NFC? Atau Facial Recognition?

Oke ayo berdiskusi tentang ini.

Presensi Menggunakan Kartu NFC

presensi

Pada dasarnya semua cara itu ada risikonya. Pertama ayo membahas tentang kartu NFC. Near-field Communication mungkin sering Anda dengar atau bahkan gunakan. Kartu e-money dan beberapa smartphone menggunakan teknologi ini.

Untuk menggunakan teknologi ini smartphone Anda harus mendukung teknologi NFC juga supaya, well, berkomunikasi. Kemudian, tidak semua smartphone pekerja memiliki teknologi ini. Sampai titik sini saja semuanya sudah terlihat jelas kalau presensi menggunakan kartu NFC undoable. Oh iya dan ingat, manusia itu tempatnya salah dan lupa. 99% pasti akan ada kejadian di mana kartu NFC pekerja itu hilang atau rusak. 

Salah satu artikel dari New York Times berjudul “Everybody Hates the Key Card. Will Your Phone Replace It?” membahas kelemahan key card (secara garis besar memiliki fungsi yang sama dengan kartu NFC). Intinya, kartu semacam ini punya kelemahan yang lumayan banyak, silakan cek artikel ini untuk melihat daftar kelemahannya.

Presensi Menggunakan Fingerprint

presensi

Presensi menggunakan sidik jari melalui Mobile App Time Clock juga kurang efisien. Bernasib sama dengan kartu NFC, tidak semua smartphone pekerja Anda punya module fingerprint scanner. Kalau bicara tentang keamanan fingerprint, dulunya ini merupakan cara yang aman. Namun, seiring berjalannya waktu reliability scan sidik jari semakin terkikis.

Tahukah Anda kalau sidik jari seseorang itu bisa hilang? Ada beberapa case di dunia ini dimana sidik jari seseorang itu hilang. Artikel dari Scientific American ini pernah menemukan kasusnya. Sejauh ini, ada dua kemungkinan sidik jari tidak terdeteksi, pertama karena suatu penyakit dan kedua karena jari Anda sudah keriput. 

Tahukah Anda kalau hampir semua permukaan benda padat yang Anda sentuh akan meninggalkan bekas sidik jari? Dan dari bekas sidik jari seseorang bisa mereplika sidik jari tersebut. Hmm… mungkin Anda akan ingat berita ini. Presiden Korea Utara pertama yang menginjakkan kaki di Amerika Serikat (Anda pasti tahu siapa), saat menghadiri undangan di sana, tidak pernah menggunakan alat-alat yang sudah disediakan. Bahkan, ballpoint pen sekalipun, dia memakai punya dia sendiri. Mungkin Anda berpendapat kalau hal tersebut terjadi karena masalah hygiene, ternyata tidak. Dia ternyata tidak mau kalau sidik jarinya “tertinggal” di sana.

Jadi, Face Verification atau Facial Recognition?

Hmm… bedanya face verification dan Facial Recognition itu apa? Singkatnya seperti gambar di bawah ini.

presensi

Baca dulu dengan seksama selama 30 detik. Starlink India, perusahaan yang bergerak di bidang biometric, menjabarkan perbedaan kedua hal tersebut. Tentu, Anda pasti sudah mulai paham kalau facial recognition itu lebih “jahat”. 

Secara teknologi, facial recognition membutuhkan kamera (bisa smartphone, cctv, atau yang lain) canggih yang dapat mengeluarkan infrared untuk scan seluruh wajah secara cepat dan akurat. Kamera smartphone yang canggih ini tentu hanya tersedia pada flagship smartphone, dan sekali lagi, tidak semua pekerja punya ini. 

Anda pergi ke bandara internasional, maka setiap jengkal wajah Anda sudah terekam dan sudah terdeteksi tanpa “konsen” Anda. Muka dan identitas Anda bisa saja sudah tersebar kemana-mana, tanpa Anda tahu. Bahkan, ada negara yang cukup menggunakan citra satelit untuk bisa mencari seseorang. 

Jadi, hati-hati kalau justru ada sebuah teknologi yang mengglorifikasi teknologi facial recognition. Jika Anda terpaksa pakai teknologi itu, maka lihatlah agreement tentang keamanan datanya. Kalau sampai dia melanggar, Anda bisa menuntutnya. Bahkan, amnesty.org benar-benar kontra dengan teknologi ini, “Facial recognition risks being weaponized by law enforcement against marginalized communities around the world. From New Delhi to New York, this invasive technology turns our identities against us and undermines human rights.”

Dan yang tersisa adalah teknologi Face Verification. Teknologi ini cenderung bisa diterapkan ke hampir semua smartphone, karena hanya butuh foto wajah Anda. Teknologi ini punya beberapa keunggulan (merujuk ke gambar di atas) dari pada teknologi “kakaknya”. Untuk masalah akurasi, memang masih kalah, namun untuk masalah keamanan kemungkinan besar ini lebih baik. 

Mungkin yang perlu diperhatikan adalah kemampuan pendeteksian setiap mobile app yang berbeda-beda. Developer tentu butuh resource lebih, jika mau mengimplementasikan kemampuan ini. Beda dengan teknologi sebelumnya yang lebih tergantung pada hardware, face verification cenderung mengarah ke kemampuan software engineeringnya. 

Sekian dulu artikel singkat ini. Intinya, Mobile Time Clock dengan kemampuan Geolocation plus Face Verification adalah cara presensi terbaik. Masih punya pertanyaan lain?

author
Alfan Alif

Share on:

Categories:

Comparison Haermes