Depresiasi atau Biaya Penyusutan dalam Laporan Keuangan, Bagaimana Menghitungnya?

Menurut KBBI, depresiasi adalah penurunan atau penyusutan nilai pada suatu aset. Dalam laporan keuangan, depresiasi termasuk ke dalam jenis biaya operasional.

Biaya penyusutan atau depresiasi adalah nilai penurunan aset yang tidak dapat dihindari. Contoh sederhananya saja gedung kantor perusahaan, mesin dan alat berat, dan alat transportasi. Anda akan selalu menemukan nilai depresiasi dalam laporan keuangan.

Depresiasi adalah biaya yang hanya berlaku bagi aset yang terkapitalisasi. Artinya, aset tersebut telah digunakan untuk keperluan operasional lebih dari sama dengan satu tahun.

Selama ini, anda mungkin hanya mengaitkan depresiasi dengan penurunan nilai mata uang saja. Padahal, dalam lingkup pembahasan dalam dunia ekonomi depresiasi memiliki makna yang sangat luas.

Melalui artikel ini akan membahas lengkap definisi depresiasi, hingga cara menghitungnya yang baik dan tepat.

Baca Juga: Pengertian Laporan Keuangan, Jenis, dan Cara Menyusunnya

Definisi Depresiasi

Sesuai dengan pembahasan di atas, depresiasi adalah penyusutan nilai sebuah aset. Namun, tidak hanya terbatas pada mata uang saja. Lebih lengkapnya, depresiasi adalah pengurangan biaya aktiva akibat konsumsi sehingga nilai dari sebuah aset terus menurun.

Berdasarkan konteks akuntansi, biaya dan penjualan perlu disesuaikan pada periode terjadi transaksi barang tersebut.

Sehingga, penghitungan depresiasi adalah biaya pembelian aset dan tahun sisa berjalan pemanfaatan aset. Dari pengertian tadi anda dapat menghitung akumulasi depresiasi, yaitu jumlah total aset yang telah menyusut selama umur aset digunakan.

Baca Juga: Perseroan Terbatas (PT): Pengertian, Jenis, dan Cara Mendirikan

Faktor Pengaruh Depresiasi

Layaknya komponen yang berkaitan dengan nilai aset seperti pendapatan dan keuntungan, depresiasi juga memiliki beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut antara lain:

• Harga Beli

Faktor pertama yang memengaruhi depresiasi adalah harga beli atau harga awal perolehan, ketika perusahaan membeli aset tersebut. Setiap periode akuntansi tertentu, bagian keuangan perusahaan harus menghitung biaya depresiasi dengan harga beli sebagai acuan pertama.

• Nilai Sisa (Residu)

Faktor selanjutnya adalah nilai sisa atau nilai terakhir aset setelah berhenti mengalami penyusutan nilai. Nilai ini dapat memengaruhi akumulasi depresiasi aset karena nilai ini menjadi patokan apakah aset mengalami penyusutan sesuai dan ideal dengan perhitungan perusahaan.

Dari nilai ini perusahaan dapat melepaskan aset tersebut namun tetap mempertahankan nilai sisa bagi perusahaan.

• Estimasi Pemakaian

Beberapa perusahaan biasanya memiliki perhitungan estimasi kapan aset miliknya benar-benar menyusut sepenuhnya. Sehingga, hal tersebut dapat memengaruhi nilai depresiasi aset perusahaan.

• Pola Penggunaan Aset

Penggunaan sebuah aset tentu dapat memengaruhi nilai aset perusahaan nanti ketika dijual. Semakin berat penggunaannya, maka estimasi nilai yang menyusut sepenuhnya juga bisa semakin cepat.

Metode Menghitung Depresiasi & Contohnya

Depresiasi memiliki metode khusus dalam menghitung jumlah nilai dan besarannya. Untuk membantu anda memahami lebih dalam mengenai depresiasi, berikut ini pembahasan selengkapnya.

1. Metode Garis Lurus

Metode ini digunakan untuk menghitung depresiasi berdasarkan asumsi dari pemakaian aset, bukan karena pemakaian. Akibatnya, depresiasi atau penyusutan nilai yang dihitung tiap tahun menggunakan jumlah yang sama untuk setiap periode akuntansi.

Akibatnya, banyak juga yang menganggap metode garis lurus dalam menghitung depresiasi adalah metode yang kurang akurat.

Rumus Metode Garis Lurus:
Depresiasi = (Harga Beli – Nilai Residu) ÷ Estimasi Pemakaian

Contoh perhitungan:

Perusahaan PT Maju Bangsa membeli 20 unit komputer pada bulan Maret 2019 dengan total harga beli sebesar Rp. 50.000.000. Fasilitas komputer ini diperkirakan memiliki masa penggunaan selama 2 tahun, dengan nilai residu sebesar Rp. 12.000.000.

Maka, nilai depresiasinya adalah sebagai berikut.
Depresiasi = (50.000.000 – 12.000.000) ÷ 2 tahun
= 38.000.000 ÷ 2 tahun = 19.000.000

20 unit komputer PT Maju Bangsa tersebut mengalami depresiasi sebesar Rp. 19.000.000 setiap tahunnya.

2. Metode Aktivitas

Kebalikan dengan metode garis lurus, metode ini menghitung depresiasi dari tingkat produktivitas. Dengan kata lain, metode ini menghitung nilai penyusutan dari aktivitas atau produktivitas sebuah aset.

Rumus Menghitung Depresiasi Aktivitas:
Depresiasi = {(Biaya Pendapatan – Nilai Residu) x Estimasi Pemakaian} ÷ Usia Produktif

Contoh:

Sebuah mesin produksi telah digunakan sebanyak 5.000 jam di tahun pertama. Mesin tersebut dibeli dengan harga Rp700.000.000 dengan asumsi dapat beroperasi hingga maksimal 12.000 jam. Mesin tersebut diketahui memiliki Nilai residu sebesar Rp70.000.000

Depresiasi = {(700.000.000 – 70.000.000) x 5.000} ÷ 12.000
= (630.000.000 x 5.000) ÷ 12.0000
= 262.500.000

Maka, depresiasi atau penyusutan nilai mesin tersebut adalah sebesar Rp262.500.000 di tahun pertama.

3. Metode Beban Menurun

Cara menghitung depresiasi yang ketiga adalah beban menurun. Cara ini mengacu pada perhitungan harga pendapatan dari suatu aset, dikali dengan persentase penurunan atau depresiasi yang berlaku untuk periode selanjutnya.

Rumus Metode Beban Menurun:
Nilai Depresiasi = Harga Beli x Persentase Penyusutan

4. Depresiasi Khusus

Metode depresiasi khusus adalah menghitung nilai penyusutan untuk aset yang memiliki nilai khusus atau membutuhkan penerapan tertentu. Sederhananya, perusahaan menerapkan metodenya tersendiri dalam menghitung depresiasi.

Dalam penerapannya, terdapat dua metode yang biasanya dapat digunakan, antara lain:

  • Metode gabungan dan kelompok: metode ini digunakan pada nilai aset (aktiva) yang memiliki fungsi hampir sama.
  • Metode campuran: digunakan sesuai keinginan dan kebutuhan akuntan.

5. Saldo Menurun Ganda

Metode ini adalah menghitung depresiasi dengan garis lurus tanpa nilai sisa (residu), lalu dilipatgandakan. Metode saldo menurun ganda digunakan untuk depresiasi dengan nilai buku setiap awal periode.

Rumus Saldo Menurun Ganda:
Depresiasi = (Harga Perolehan ÷ Estimasi Pemakaian) x 2

Contoh:

PT Boga Lezat Nusantara membeli mesin untuk produksi kue dengan harga sebesar Rp70.000.000 pada 7 Januari 2022. Mesin tersebut akan digunakan hingga tidak memiliki nilai residu dengan masa pemakaian sepanjang 5 tahun.

Depresiasi = (70.000.000 ÷ 5) x 2
= 14.000.000 x 2 = 28.000.000
Depresiasi akhir tahun ke-1 = 28.000.000
Depresiasi akhir tahun ke-2 = {(70.000.000 – 28.000.000) ÷ 5} x 2 = 16.800.000

Dari perhitungan di atas dapat anda lihat depresiasi pada tahun pertama sebesar Rp 28.000.000, dan tahun kedua sebesar Rp 16.800.000. Metode yang sama dapat digunakan untuk menghitung depresiasi tahun-tahun berikutnya.

6. Metode Unit Produksi

Unit produksi juga dapat digunakan untuk menghitung depresiasi. Metode ini menghitung depresiasi dengan cara melihat jumlah unit suatu aset tetap. Metode unit produksi sering digunakan oleh perusahaan manufaktur untuk menghitung sisa usia aset tetapnya.

Rumusnya:
Depresiasi = (Harga Perolehan – Nilai Sisa) x (Pemakaian ÷ Kapasitas Pemakaian Maksimal)

Contoh:

PT Travel Jaya membeli mobil seharga Rp350.000.000 untuk keperluan operasional. Tujuh tahun kemudian, mobil tersebut berniat dijual dengan harga Rp75.000.000.

Awalnya, mobil tersebut mampu digunakan sejauh 125.000 km. Namun sekarang, hanya mampu menempuh jarak maksimal 40.000 km saja.

Depresiasi = (350.000.000 – 75.000.000) x (40.000 ÷ 125.000)
= 275.000.000 x 0.32
= 88.000.000

Jadi, dapat disimpulkan bahwa mobil tersebut mengalami penyusutan sebesar Rp88.000.000.

Aset Apa yang Dapat Mengalami Depresiasi?

Umumnya, aset yang dapat mengalami depresiasi disebut juga sebagai aset modal. Aset tersebut dapat berupa bangunan atau gedung, sewa properti, kendaraan operasional, dan semua peralatan.

Jika anda perhatikan, aset-aset di atas adalah aset yang memiliki nilai ekonomis. Yaitu aset bisnis yang dapat digunakan untuk menghasilkan pendapatan bagi perusahaan. Namun, ada juga beberapa aset yang anda tidak bisa menghitung depresiasinya.

Aset tersebut antara lain:

  • Peralatan kantor yang akan habis dalam waktu kurang dari satu tahun.
  • Peralatan yang dipakai untuk meningkatkan modal.
  • Aset yang tidak memiliki wujud seperti software misalnya.

Itulah pembahasan soal depresiasi dalam laporan keuangan, lengkap beserta contohnya. Semoga dapat membantu anda dalam memahami lebih dalam mengenai nilai penyusutan sebuah aset.

Mohamad Krisna

Categories:

Karyawan

Share on:

To the top

Related Posts

Recent Posts