Upskilling dan Reskilling di Era AI Membangun Workforce yang AI Ready

Penerapan AI dalam HR: Panduan AI Readiness Enterprise 2026

By Fian
Published Last updated 7 Min Read

Share on:

AI tidak hanya mengubah teknologi yang digunakan perusahaan, tetapi juga pekerjaan, cara bekerja, dan skills yang dibutuhkan workforce. World Economic Forum memperkirakan 59 dari setiap 100 pekerja akan membutuhkan upskilling atau reskilling pada 2030, sementara 63% perusahaan mengidentifikasi skills gap sebagai hambatan utama transformasi bisnis.

Bagi enterprise dengan ribuan karyawan, tantangannya bukan sekadar menyediakan program training. HR perlu memahami skills apa yang berubah, siapa yang membutuhkan upskilling, siapa yang membutuhkan reskilling, dan bagaimana pengembangan skills tersebut mendukung adopsi AI. Upskilling membantu karyawan mengembangkan kemampuan yang relevan dengan peran mereka saat ini, sementara reskilling membantu mereka mempersiapkan kemampuan untuk menjalankan peran yang berbeda.

Artikel ini membahas perbedaan upskilling dan reskilling, mengapa keduanya semakin penting di era AI, bagaimana HR mengidentifikasi skills gap, serta bagaimana skills development dapat membangun AI literacy, mendorong AI adoption, dan mempersiapkan workforce yang AI-ready. Dengan demikian, upskilling dan reskilling tidak diposisikan sekadar sebagai aktivitas Learning & Development, tetapi sebagai bagian dari strategi workforce jangka panjang.

Mengapa AI Mengubah Kebutuhan Skills Workforce?

AI mengubah kebutuhan skills karena teknologi tidak hanya mengotomatisasi sebagian tugas, tetapi juga mengubah bagaimana pekerjaan dilakukan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk menjalankannya.

Perubahan ini membuat perusahaan tidak cukup hanya mempertahankan skills yang relevan hari ini. Mereka juga perlu mengantisipasi skills yang akan dibutuhkan ketika teknologi, proses bisnis, dan peran pekerjaan terus berkembang.

Data LinkedIn Work Change Report 2025 menunjukkan bahwa sekitar 70% skills yang digunakan dalam sebagian besar pekerjaan diperkirakan akan berubah pada 2030, dengan AI menjadi salah satu katalis utamanya.

Sementara itu, World Economic Forum menempatkan AI and big data sebagai kelompok skills dengan pertumbuhan permintaan tercepat hingga 2030. Namun, skills manusia seperti analytical thinking, resilience, flexibility, leadership, dan collaboration juga tetap penting.

Artinya, workforce masa depan tidak hanya membutuhkan technical AI skills, tetapi kombinasi antara:

  • AI dan technology literacy
  • Analytical thinking
  • Creative thinking
  • Adaptability
  • Problem solving
  • Collaboration
  • Leadership
  • Continuous learning

Bagi HR, perubahan ini menciptakan pertanyaan yang lebih strategis: Apakah skills workforce saat ini masih sesuai dengan skills yang akan dibutuhkan perusahaan dalam beberapa tahun ke depan?

Apa Perbedaan Upskilling dan Reskilling?

Upskilling dan reskilling sama-sama bertujuan mempersiapkan workforce menghadapi perubahan, tetapi memiliki tujuan yang berbeda.

UpskillingReskilling
FokusMengembangkan skills yang sudah dimilikiMembangun skills baru
TujuanMeningkatkan kemampuan dalam peran saat iniMempersiapkan peran atau pekerjaan baru
ContohMarketing belajar menggunakan AI untuk analisis dan content creationAdministrative employee mengembangkan skills untuk berpindah ke role yang lebih data-oriented
Kapan digunakan?Ketika core role masih relevan tetapi skills perlu berkembangKetika kebutuhan pekerjaan berubah atau role baru membutuhkan capability berbeda

Apa Itu Upskilling?

Upskilling adalah proses mengembangkan atau memperbarui kemampuan karyawan agar tetap relevan dan lebih efektif dalam peran yang sedang dijalankan.

Dalam konteks AI, contohnya dapat berupa:

  • mempelajari AI tools yang relevan dengan pekerjaan;
  • meningkatkan AI literacy;
  • belajar menggunakan AI untuk meningkatkan productivity;
  • meningkatkan kemampuan menganalisis output AI;
  • memahami batasan dan risiko penggunaan AI.

Upskilling tidak selalu berarti mempelajari skill yang sepenuhnya baru. Fokusnya adalah memperkuat capability yang sudah ada agar sesuai dengan tuntutan pekerjaan yang berubah.

Apa Itu Reskilling?

Reskilling adalah proses membangun kemampuan baru agar karyawan dapat menjalankan pekerjaan atau peran yang berbeda.

Pendekatan ini menjadi relevan ketika perubahan teknologi membuat sebagian pekerjaan berkurang relevansinya, sementara kebutuhan terhadap peran atau skills baru meningkat.

Contohnya: Sebuah perusahaan mengotomatisasi sebagian proses administratif. Alih-alih hanya menghilangkan pekerjaan yang terdampak, perusahaan dapat mengembangkan skills karyawan agar dapat berpindah ke fungsi lain yang membutuhkan kemampuan berbeda.

Upskilling vs. Reskilling: Kapan Enterprise Membutuhkan Keduanya?

Perusahaan tidak harus memilih upskilling atau reskilling secara eksklusif. Keduanya dapat digunakan berdasarkan kondisi workforce:

  • Gunakan upskilling ketika:
    • role masih relevan;
    • core responsibilities tetap sama;
    • skills baru dibutuhkan untuk meningkatkan performa;
    • teknologi mengubah cara pekerjaan dilakukan.
  • Gunakan reskilling ketika:
    • kebutuhan terhadap suatu role menurun;
    • pekerjaan berubah secara signifikan;
    • muncul role baru yang membutuhkan capability berbeda;
    • terdapat talent internal yang berpotensi dialihkan ke opportunity lain.

World Economic Forum memperkirakan bahwa dari 100 pekerja, 29 dapat di-upskill dalam peran saat ini, sementara 19 dapat di-upskill dan kemudian dipindahkan ke peran lain dalam perusahaan.

Ini menunjukkan bahwa strategi workforce tidak harus selalu berujung pada hiring eksternal. Pengembangan dan mobilisasi talent internal juga dapat menjadi bagian dari respons terhadap skills gap.

Mengapa Upskilling dan Reskilling Semakin Penting di Era AI?

Menghadapi Skills Gap yang Semakin Berkembang

Skills gap terjadi ketika skills yang dimiliki workforce tidak lagi sesuai dengan skills yang dibutuhkan perusahaan. Masalah ini menjadi semakin kompleks ketika perubahan teknologi berlangsung lebih cepat daripada siklus pengembangan talent.

World Economic Forum mencatat 63% employer menganggap skills gap sebagai hambatan terbesar terhadap transformasi bisnis, dan 85% employer berencana memprioritaskan upskilling workforce mereka.

Bagi enterprise, ini berarti strategi pengembangan workforce perlu bergerak dari “Training apa yang perlu diberikan?” menjadi “Skills apa yang dibutuhkan perusahaan, skills apa yang kita miliki, dan bagaimana kita menutup gap tersebut?”.

Mempersiapkan Workforce untuk Future Skills

Future skills bukan hanya tentang kemampuan menggunakan teknologi baru. Perusahaan juga membutuhkan skills yang membantu workforce beradaptasi dengan perubahan.

World Economic Forum mengidentifikasi AI and big data, networks and cybersecurity, serta technology literacy sebagai beberapa skills dengan pertumbuhan tercepat. Di saat yang sama, analytical thinking, resilience, flexibility, creativity, dan lifelong learning juga diperkirakan semakin penting.

Karena itu, strategi upskilling dan reskilling perlu mempertimbangkan kombinasi: Technology skills + Human skills + Adaptability.

Menghubungkan Skills Development dengan AI Adoption

Upskilling dan reskilling juga tidak seharusnya dipisahkan dari strategi AI adoption.

Temuan LinkedIn Workplace Learning Report 2025 mengungkapkan hubungan erat antara kematangan pengembangan karier dan percepatan teknologi. Perusahaan yang memiliki program pengembangan karier matang cenderung lebih unggul dalam mengadopsi Generative AI, di mana 51% di antaranya telah berada di tahap terdepan (accelerating atau leading), dibandingkan 36% pada perusahaan dengan tingkat kematangan lebih rendah. Tak hanya itu, kelompok perusahaan matang ini juga 32% lebih proaktif dalam menyelenggarakan program pelatihan AI pada tahun 2025.

Ini memberikan perspektif penting: AI adoption bukan hanya persoalan technology deployment. Workforce capability juga menjadi bagian dari kesiapan perusahaan untuk mendapatkan value dari AI.

Bagaimana HR Menentukan Skills yang Perlu Di-upskill atau Di-reskill?

Program upskilling dan reskilling sebaiknya tidak dimulai dari daftar training yang tersedia. HR perlu terlebih dahulu memahami skills yang dimiliki workforce dan bagaimana skills tersebut dibandingkan dengan kebutuhan perusahaan ke depan.

Identify: Memahami Skills yang Dimiliki Workforce

Langkah pertama adalah mengetahui:

  • skills apa yang dimiliki karyawan;
  • skills apa yang paling banyak tersedia;
  • skills apa yang critical bagi business;
  • skills apa yang mulai mengalami perubahan.

Tanpa visibility terhadap skills, HR akan kesulitan menentukan prioritas pengembangan.

Assess: Mengidentifikasi Skills Gap

Setelah current skills dipahami, perusahaan dapat membandingkannya dengan future skills yang dibutuhkan. Sederhananya:

Current Skills → Required Skills → Skills Gap

Dari sini HR dapat menentukan apakah gap tersebut lebih tepat dijawab dengan upskilling, reskilling, hiring, atau kombinasi ketiganya.

Develop: Menentukan Kebutuhan Upskilling dan Reskilling

Setelah gap diketahui, program development dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya:

KondisiPendekatan
Employee tetap pada role yang sama tetapi membutuhkan capability baruUpskilling
Employee membutuhkan skills tambahan untuk meningkatkan productivityUpskilling
Role berubah secara signifikanReskilling
Employee berpotensi berpindah ke role lainReskilling + Internal Mobility

Pendekatan seperti ini membuat learning menjadi lebih skills-driven, bukan sekadar course-driven.

Menghubungkan Skills dengan Pekerjaan dan Opportunity

Skills development akan lebih bernilai ketika skills yang diperoleh dapat digunakan dalam pekerjaan nyata. Karena itu, HR perlu menghubungkan:

Skills → Role → Opportunity → Business Need

Hal ini dapat mencakup: internal mobility, project-based learning, career development, assignment, role transition, hingga penggunaan skills baru dalam pekerjaan sehari-hari. Dengan begitu, keberhasilan program tidak hanya diukur dari berapa banyak karyawan menyelesaikan training, tetapi juga dari bagaimana skills tersebut digunakan dan menghasilkan value.

Bagaimana Upskilling dan Reskilling Mendukung AI Literacy dan AI Readiness?

Upskilling dan reskilling dapat menjadi mekanisme untuk membangun AI literacy, tetapi AI literacy sendiri bukan sekadar kemampuan menggunakan AI tools.

SAP SuccessFactors HR Research Scientists secara khusus meneliti bagaimana pengetahuan dan skills AI dapat ditingkatkan pada berbagai kelompok workforce, termasuk employees, managers, dan HR teams. SAP menjelaskan bahwa kebutuhan dan outcome AI setiap kelompok workforce dapat berbeda.

AI Literacy sebagai Fondasi AI Adoption

AI literacy membantu workforce memahami:

  • apa yang dapat dilakukan AI;
  • bagaimana AI digunakan;
  • kapan AI dapat membantu pekerjaan;
  • apa keterbatasannya;
  • bagaimana menggunakannya secara bertanggung jawab.

Ini penting karena menyediakan AI tools saja tidak otomatis membuat workforce menggunakannya secara efektif. Tools menyediakan capability. Literacy membantu workforce memahami bagaimana capability tersebut digunakan.

Membangun Confidence dalam Menggunakan AI

Perubahan teknologi dapat menciptakan uncertainty apabila workforce tidak memahami bagaimana AI memengaruhi pekerjaan mereka. Karena itu, upskilling tidak hanya perlu menjawab “Bagaimana menggunakan AI?” tetapi juga “Mengapa AI digunakan, apa manfaatnya, apa batasannya, dan bagaimana AI membantu pekerjaan saya?” Pendekatan ini membantu menghubungkan technical capability dengan confidence dan adoption.

Menyesuaikan Learning dengan Kebutuhan Workforce

Tidak semua karyawan membutuhkan tingkat AI literacy yang sama. Misalnya:

  • Employees: membutuhkan pemahaman dasar dan penggunaan AI dalam pekerjaan sehari-hari.
  • Managers: membutuhkan kemampuan mengevaluasi penggunaan AI, mengarahkan team adoption, dan memahami batas penggunaan AI.
  • HR Professionals: membutuhkan pemahaman lebih strategis mengenai AI dalam talent management, workforce planning, learning, dan employee experience.

Karena itu, pendekatan fit-for-purpose lebih relevan dibandingkan satu program AI training yang sama untuk seluruh workforce.

Apakah Pendekatan Upskilling dan Reskilling Harus Sama untuk Semua Workforce?

Tidak. Strategi skills development perlu disesuaikan dengan role, existing skills, future requirements, dan kebutuhan perusahaan masing-masing kelompok workforce.

  • Employee (Practical AI Skills): Fokus pada AI literacy dasar, penggunaan AI dalam pekerjaan, productivity, critical evaluation terhadap output AI, dan responsible AI use.
  • Manager (AI Adoption dan Team Guidance): Membutuhkan kemampuan memahami dampak AI terhadap pekerjaan tim, menentukan pekerjaan yang dapat dibantu AI, mendukung employee adoption, mengidentifikasi kebutuhan development, dan menjaga responsible use.
  • HR Professionals (Workforce dan AI Strategy): Membutuhkan perspektif yang lebih luas seperti skills strategy, workforce planning, talent development, AI literacy, AI adoption, responsible AI, dan measurement of workforce readiness.

LinkedIn juga menunjukkan bahwa kebutuhan AI skills dapat berbeda berdasarkan role dan tingkat proficiency. Administrative assistants, misalnya, dapat membutuhkan introductory GAI fluency, sementara engineers membutuhkan skills teknis yang jauh lebih mendalam untuk membangun dan menjalankan sistem AI.

Bagaimana Membangun Workforce yang AI-Ready?

Membangun workforce yang AI-ready bukan berarti membuat seluruh karyawan menjadi AI expert. AI-ready workforce adalah workforce yang memiliki skills, knowledge, confidence, dan kemampuan menggunakan AI sesuai dengan kebutuhan perannya.

Pendekatannya dapat dibangun melalui beberapa lapisan:

  1. Identify Skills: Pahami skills workforce saat ini dan skills yang dibutuhkan bisnis.
  2. Close the Skills Gap: Tentukan apakah gap dapat ditutup melalui upskilling, reskilling, internal mobility, atau hiring.
  3. Build AI Literacy: Pastikan workforce memahami penggunaan, manfaat, batasan, dan aspek responsible AI sesuai kebutuhan role.
  4. Enable AI Adoption: Hubungkan learning dengan pekerjaan nyata agar skills baru benar-benar digunakan.
  5. Continue Learning: AI dan kebutuhan skills akan terus berkembang. Karena itu, workforce development perlu bergerak dari one-time training menuju continuous learning.

LinkedIn mencatat bahwa 91% L&D professionals yang disurvei menganggap continuous learning semakin penting untuk career success.

3 Key Takeaways untuk HR Leaders

  1. Upskilling dan Reskilling Bukan Sekadar Program Training: Keduanya merupakan bagian dari strategi workforce untuk merespons perubahan skills akibat AI dan perubahan kebutuhan perusahaan.
  2. Skills Gap Harus Menjadi Titik Awal: HR perlu memahami current skills → required skills → skills gap sebelum menentukan apakah workforce membutuhkan upskilling, reskilling, internal mobility, atau hiring.
  3. AI Literacy Mendukung Workforce AI Readiness: Membangun AI-ready workforce membutuhkan lebih dari sekadar menyediakan AI tools. Workforce perlu memiliki literacy, capability, dan confidence untuk menggunakan AI secara efektif dan bertanggung jawab.

Siapkan Workforce Anda untuk Era AI

Keberhasilan adopsi AI di perusahaan berawal dari AI literacy yang kuat. Pelajari framework eksklusif berbasis riset berkualitas dari tim SAP untuk membantu karyawan, manajer, dan HR dalam mengoptimalkan penggunaan AI di perusahaan.

Download eBook HR’s Guide to AI Literacy – SAP Sekarang

Ingin menghubungkan strategi workforce development dengan teknologi HR yang tepat? Eksplorasi bagaimana SAP SuccessFactors membantu enterprise mengelola talent, skills, learning, dan pengembangan workforce dalam satu ekosistem.

→ Jelajahi SAP SuccessFactors

Transformasikan Workforce Anda dengan SAP SuccessFactors

Hubungi KamiMulai Konsultasi

FAQ

Upskilling mengembangkan skills yang dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan dalam role saat ini, sedangkan reskilling membantu karyawan membangun skills baru untuk menjalankan role atau pekerjaan yang berbeda.

Karena AI mengubah pekerjaan dan skills yang dibutuhkan. World Economic Forum memperkirakan 59 dari 100 pekerja akan membutuhkan upskilling atau reskilling pada 2030, sementara 63% employer menganggap skills gap sebagai hambatan utama transformasi bisnis.

Tidak. Kebutuhan AI literacy dan skills berbeda berdasarkan role. Employee, manager, HR professional, maupun technical specialist dapat membutuhkan tingkat knowledge dan capability yang berbeda. SAP sendiri menekankan pentingnya memahami kebutuhan dan desired AI outcomes dari kelompok workforce yang berbeda.

Tidak. AI literacy lebih berfokus pada kemampuan individu atau kelompok untuk memahami dan menggunakan AI secara tepat. AI readiness memiliki cakupan lebih luas, yaitu kesiapan perusahaan untuk mengadopsi AI melalui workforce, technology, processes, governance, dan faktor pendukung lainnya.

Mulai dengan membandingkan skills yang dimiliki workforce dengan skills yang dibutuhkan perusahaan. Jika role masih relevan tetapi membutuhkan kemampuan tambahan, upskilling dapat menjadi pendekatan yang sesuai. Jika role atau kebutuhan pekerjaan berubah secara signifikan, reskilling dan internal mobility dapat dipertimbangkan.

Jangan hanya mengukur jumlah peserta atau completion rate. Enterprise juga dapat melihat skills gained, skills gap reduction, application of skills, internal mobility, productivity, AI adoption, dan business outcomes yang relevan dengan tujuan program.

Share on:

Author

Fian

Fian adalah seorang Digital Marketing Specialist dengan pengalaman lebih dari 2 tahun di industri B2B SaaS. Berfokus pada pengembangan strategi konten, pengelolaan media sosial, dan eksekusi kampanye digital untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Memiliki latar belakang dalam desain grafis dan multimedia, serta mampu memadukan kreativitas visual dengan pendekatan strategis untuk menghasilkan komunikasi yang relevan dan berdampak.

Categories: (1)

HR Tech
To the top